Tampilkan postingan dengan label Dunia anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Juni 2009

Ajarkan Anak Tanggung Jawab


KEDISIPLINAN bisa diajarkan dan dibiasakan pada anak sejak dini, tapi juga membutuhkan kesadaran yang datang dari diri sendiri. Dengan berdisiplin, anak juga belajar bertanggung jawab.

Dr Marvin Marshall, seorang konsultan dan penulis di sebuah surat kabar elektronik di Amerika, mengemukakan bahwa saat liburan tiba (terutama liburan Natal dan tahun baru), orang tua sering kali sibuk memikirkan tentang hadiah apa yang akan diberikan kepada putra-putrinya.

"Padahal ada hadiah yang tak ternilai harganya dan akan berguna hingga akhir hayat anak-anak kita, yaitu tanggung jawab," kata Marshall seperti dikutip dalam presentasi bertajuk How to Promote Responsibility.

Menurut Marshall, ada beberapa cara untuk menanamkan tanggung jawab dan disiplin tanpa membuat anak stres, tanpa hukuman, serta tanpa perlu pemberian hadiah.

Pertama, usahakan untuk selalu mengatakan dengan bahasa yang positif. Misalkan: "Kalau kamu bisa menyelesaikan PR-mu dengan cepat, maka kamu bisa segera pergi". Ini akan lebih efektif ketimbang mengatakan: "Kalau kamu tidak mengerjakan PR-mu, maka kamu tidak boleh pergi". Jadi setiap perkataan dan tindakan hendaknya dilandasi dengan kebijakan. Bagaimanapun, kebijakan lebih baik daripada konsekuensi yang sering diartikan sebagai hukuman.

Kedua, tawarkan pilihan. Pilihan memang bisa dibatasi, tapi dengan sering melatih anak untuk memilih, maka dia juga akan semakin bertanggung jawab, terutama terhadap pilihannya itu. Jika dia tidak kunjung memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, coba tingkatkan pilihan sehingga dia mempunyai lebih banyak pilihan.

"Dalam hubungan pertemanan, 'tidak kalah' itu lebih penting ketimbang menang. Selama seseorang itu punya pilihan, dia tidak akan kalah. Maka, cobalah tawarkan pilihan-pilihan yang masuk akal pada anak-anak," saran Marshall dalam www.momstoday.com.

Pilihan itu bisa disadari atau tidak disadari. Setiap orang selalu punya kemungkinan untuk memilih, jangan ajarkan anak untuk berpikir sebagai "korban" atas hal tidak menyenangkan yang menimpanya. Misalkan,"Dia membuatku melakukan hal ini", "Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri", atau "Aku tidak punya pilihan lain".

Ketiga, berhati-hatilah dengan pertanyaan "mengapa?". Dalam pertanyaan tersebut terkandung makna "mengemukakan alasan", menjadi korban, atau menghindari tanggung jawab.



Ketika anak merasa terdesak, dia bisa mengemukakan alasan yang tidak benar (berbohong) untuk melindungi di-rinya dari rasa bersalah atau kemungkinan hukuman dari orang tuanya. Selain itu, batasi kebiasaan "menceramahi" anak. Kendati mungkin orang tua bermaksud baik untuk menasihati, tapi anak-anak bisa salah menilainya sebagai kritikan, atau mungkin mereka akan berpikir: "Ih, mama bawel amat sih!".

Keempat, jadilah pendengar yang baik. Orang tua juga hendaknya mencoba untuk mengerti dan mendengarkan cerita dan keluhan anak tanpa menginterupsi dengan pendapatnya. Ketimbang menghakimi, lebih baik tunjukkan ketertarikan dan rasa ingin tahu yang tinggi.

Mengelola kebiasaan mendengarkan untuk memahami akan kian mempererat hubungan orang tua dan anak. Orang tua yang memiliki kebiasaan mendengarkan yang buruk biasanya cenderung selalu menginterupsi. "Mengunci mulut" saat anak bercerita mungkin agak berat, tapi ini adalah salah satu jalan yang tepat untuk meningkatkan komunikasi. Bagaimanapun anak-anak butuh untuk curhat, maka jadilah pendengar yang baik sehingga mereka bisa mencontohnya.

Kelima, kemukakan keinginan Anda sebagai orang tua. Beri kesempatan pada anak untuk menolong Anda karena anak-anak tumbuh dengan memberi. Nyatakan lebih dari sekadar pujian, misalkan "Mama lihat kamu merapikan tempat tidurmu". Kalimat tersebut lebih menunjukkan kompetensi diri dan mengembangkan tanggung jawab anak ketimbang mengatakan, "Mama sangat bangga melihatmu merapikan tempat tidurmu," yang hanya menunjukkan sesuatu yang membanggakan orang tua.

Keenam, pemberian hadiah tidak akan memotivasi anak untuk bertanggung jawab. Jika anak mengetahui adanya reward, maka kemungkinan mereka akan mengalihkan pikiran untuk bertindak menjadi pikiran untuk menyuap atau mengambil hati orang tuanya. Padahal tujuan utamanya adalah meningkatkan tanggung jawab anak, bukan menghukum atau memberinya hadiah kan?

Rabu, 13 Mei 2009

Jauhkan Anak dari Game Kekerasan


Perlu untuk menjauhkan anak-anak dari permainan komputer yang berkaitan dengan kekerasan. Demikian dikatakan tiga ahli ilmu jiwa Austria berdasarkan temuan penelitian paling akhir mereka.

Menurut laporan yang disiarkan Jumat di media Austria, dalam penelitian paling akhir mereka dengan judul "Kekerasan dan Pencegahan Kekerasan", tiga ilmuwan dari Departemen Psikologi di University of Vienna, Austria, itu menyarankan sikap "tanpa toleransi" mesti diterapkan dalam menangani pemuda yang bermain game kekerasan di komputer.

Pemuda mesti dijauhkan dari permainan kekerasan tersebut karena semua itu "tak baik dan hanya menimbulkan kerugian".

Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa pemuda yang sering kali memainkan games yang berkaitan dengan kekerasan di komputer cenderung menjadi lebih agresif dibandingkan dengan mereka yang hanya bermain games yang kurang atau tidak berisi kekerasan.

Untuk itu, para ilmuwan tersebut menjelaskan permainan yang berisi kekerasan bukan hanya cenderung ditiru, tapi lingkungan permainan itu juga mudah membawa seseorang pada mental reaktif atau imaginer agresif.

"Anak-anak yang memainkan game yang berkaitan dengan kekerasan di komputer akan mudah memperlihatkan sifat agresif ketika terganggu, tidak puas, atau marah". Dengan demikian, mereka lebih agresif dibandingkan dengan anak yang tak memainkan game semacam itu.

Pada penelitian tersebut juga didapati bahwa di kalangan remaja yang berumur 16 tahun dan secara khusus disurvei, anak laki-laki yang memainkan game komputer dengan isi yang berkaitan dengan tindakan brutal bahkan telah mencapai 60 persen.
Oleh karena itu, para ilmuwan tersebut menyarankan orangtua dan guru mesti memulai pendidikan terkait di sekolah dasar guna menjauhkan anak-anak dari permainan komputer yang mengandung kekerasan.

Pada 11 Maret, penembakan di kampus yang mengejutkan dunia terjadi di Jerman sehingga 17 orang tewas. Pembunuhnya adalah anak laki-laki berusia 17 tahun yang, menurut penyelidikan, tertarik pada permainan komputer yang mengandung kekerasan.


Daftar pustaka

Rabu, 08 April 2009

Iklan rokok dalam dunia anak dan remaja


Dari media massa kompas, saya telah membaca beberapa hal tentang kasus merokok di Indonesia. Berdasarkan laporan Economic Analysis on Tobacco Use pada 2004, di Indonesia rokok membunuh 427.948 orang alias 1.174 orang per hari. Data Global Youth Tobacco pada tahun sama menyebutkan, tingkat prevalensi perokok anak usia 13-15 tahun mencapai 24,5 persen dari total populasi anak Indonesia.

Dari jumlah itu, 2,3 persen adalah remaja perempuan sehingga prevalensi perokok pemula usia 15-19 tahun meningkat dari tahun ke tahun. Pada 1995 angka itu adalah 13,7 persen, menjadi 24,2 persen pada 2000, dan 32,8 persen pada 2004, dan angka itu cenderung meningkat pada lima tahun terakhir.

Sangat banyak sekali iklan dan promosi rokok di berbagai media massa, spanduk, dan lain lain yang sangat beragam. Tetapi disini saya tidak membahas hal itu. Disini yang saya soroti adalah iklan rokok dalam berbagai kemasan acara, terutama acara yang menyangkut anak dan remaja harus segera dilarang sebagai bentuk perlindungan anak dan remaja.

Berdasarkan kajian berbagai pihak yang giat dalam penanggulangan bahaya merokok dan perlindungan anak, disimpulkan, seluruh rangkaian kegiatan pemasaran industri rokok sangat sistematis untuk menjadikan anak-anak dan remaja sebagai perokok pemula.

Hal ini sudah terlihat pada sebagian besar acara yang digelar baik anak maupun remaja pasti ada saja yang menyangkut iklan rokok di dalamnya. Ini dapat menyajikan informasi tidak sehat yang bisa mengganggu proses pertumbuhan dan perkembangan anak dan remaja dari banyak aspek. Industri rokok menjadi sponsor aktif kegiatan olahraga, kesenian, dan lain-lain yang banyak bersentuhan dengan dunia remaja, bahkan dunia religi. Contohnya saja kegiatan festival musik di kalangan anak sekolah menengah atas, biasanya akan menghadirkan iklan sponsor rokok di dalamnya.

Dalam kegiatan sponsor ini memang tidak mengajak secara langsung bagi remaja untuk merokok, tetapi dalam dunia marketing terdapat satu tipe jenis marketing yaitu soft selling. Soft selling adalah sistem penjualan yang dilakukan secara halus dan tidak menawarkan produk secara langsung. Bagaimana tidak terjadi peningkatan jumlah perokok di kalangan remaja, jika dalam setiap kegiatan mereka selalu di jejali dengan berbagai iklan rokok di dalamnya.

“UU Nomor 23/2002 Tentang Perlindungan Anak jelas menyebutkan bahwa anak dan remaja Indonesia harus dilindungi dari berbagai hal yang bisa merugikan hak hidup mereka”


Sejauh ini belum ada peraturan resmi yang meregulasi tata cara pemasaran rokok dan yang memiliki semangat melindungi anak dan remaja dari bahaya rokok. Komisi Nasional Perlindungan Anak sendiri tengah mendekati Mahkamah Agung untuk keperluan perlindungan anak ini.

Semoga nantinya iklan rokok tidak lagi masuk dalam kegiatan dunia remaja, walaupun nantinya terdapat berbagai kotroversi yang terjadi. Tetapi ini demi generasi penerus bangsa yang sehat, baik jasmani maupun mental, karena mereka belumlah pantas untuk merokok dikalangan usia perkembanganya.

Sabtu, 04 April 2009

Membentuk rasa percaya pada anak


Menurut Erik Erikson (1968), tahun pertama kehidupan bayi ditandai dengan tahap perkembangan rasa percaya dan tidak percaya, bayi menuntut lingkungannya untuk aman secara fisik dan hal-hal yang menyakitkan. Kepercayaan pada masa bayi dapat memunculkan pemikiran bahwa dunia adalah tempat tinggal yang baik dan menyenangkan. Bayi akan mempelajari rasa percaya jika mereka diasuh dengan cara yang konsisten dan hangat.

Contonya, jika bayi pada saat lapar tidak diberi makan dengan baik dan diberikan suasana hangat yang konsisten, maka bayi akan cenderung berkembang dengan rasa tidak percaya. Inilah hal yang perlu orangtua perhatikan dalam masa tahap perkembangan awal bayi mereka.

Bayi yang memiliki rasa percaya cenderung untuk memiliki rasa aman secara sosial maupun lingkunganya dan memiliki rasa percaya diri mengekplorasi lingkungan yang baru. Begitu juga sebaliknya, bayi yang tidak mempunyai rasa percaya cenderung untuk tidak memiliki harapan-harapan positif.

Rasa percaya ternyata tidak hanya muncul pada tahun pertama kelahiran saja tetapi juga muncul pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya. Seperti, anak yang memasuki sekolah dengan rasa tidak percaya akan dapat mempercayai guru tertentu yang lebih banyak meluangkan waktunya untuk membuat dirinya sebagai orang yang dapat dipercayai. Begitu juga dengan anak yang memiliki rasa percaya akan berubah jika pada tahap perkembangan selanjutnya terjadi sesuatu kejadian seperti orangtuanya bercerai akibat konflik yang berkepanjangan.

Ada sebuah contoh kasus. Seorang laki-laki berusia 4 tahun sedang dirawat oleh psikologi klinis karena orangtua angkatnya mengembalikanya ke panti asuhan setelah diasuh selama 6 bulan. Anak ini dingin, tidak mempunyai rasa sayang, suka mencuri benda-benda dan tidak dapat dipercayai. Hal ini terjadi bukan tanpa alasan, kira-kira setelah setahun kelahiranya (hasil pekawinan tidak sah), ia dirawat berpindah-pindah oleh panti asuhan.

Pada awalnya ia mencoba untuk membangun hubungan dengan orang-orang di panti asuhan, tetapi hal ini tidak dapat berkembang karena terlalu sering dipindahkan dari panti ke panti. Pada akhirnya, ia berhenti untuk menjangkau orang lain karena perpisahan yang tidak terelakkan itu sangat menyakitkan.

Seperti anak yang terluka akibat terkena api, maka ia akan berusaha untuk tidak mendekati bila terdapat nyala api didepanya. Hal ini sama, jika anak mengalami rasa sakit atas hubungan emosional maka selanjutnya ia tidak akan mempercayai siapa pun. Hanya pengasuhan dan kesabaran bertahun-tahun untuk dapat memulihkan rasa tidak percaya si anak.

Oleh karena itu berilah anak anda rasa perlindungan, perhatian, kasih sayang dan kelekatan yang konsisten, terutama pada awal tahun pertama kelahiran agar anak dapat memiliki rasa percaya akan situasi sosial dan lingkungan sekitarnya. Tentu saja pada tahap-tahap perkembangan selanjutnya juga perlu untuk menjaga kepercayaan pada anak agar tetap terbentuk.

Senin, 30 Maret 2009

Anak ikut kampanye, salah siapa?


Anda pasti tahu pada tanggal 9 April 2009 akan dimulainya pemilihan umum untuk memilih calon legislatif baik DPR RI, DPD maupun DPRD. Banyak partai yang kini mencalonkan para anggotanya untuk mengisi kursi kosong sebagai seorang wakil rakyat. Banyak pula partai yang kini saling menyerukan suara-suara orasi untuk menarik minat masyarakat. Kampanye-kampanye pun digelar diberbagai daerah, tak terkecuali daerah anda juga ikut menjadi tempat sasaran kampanye. Beberpa kegiatan kampanye yang sering dilakukan, seperti konvoi kendaraan bermotor, konser musik atau dangdut, bahkan sampai goyang erotis pun di tonjolkan untuk menarik massa.

Tidak sedikit pula pelanggaran yang terjadi selama kampanye berlangsung. Contoh kali ini yang paling riskan adalah keikutsertaan anak-anak dalam kegiatan kampanye. Sungguh ironis, banyak sekali anak yang tidak luput dari kegiatan kampanye, yang ternyata tidak lain karena diajak oleh orangtua mereka. Padahal banyak sekali tontonan yang tidak layak untuk disaksikan oleh anak-anak. Goyang dangdut yang heboh misalnya, apakah hal itu layak untuk disaksikan oleh seorang anak yang masih dalam proses perkembangan dan belajar? Sudah saatnya kini orangtua untuk sadar akan kekeliruan yang mereka lakukan.

Dari kebanyakan alasan, orangtua lebih suka mengajak anak mereka untuk ikut berkampanye dari pada meninggalkan anak menangis tidak karuan dirumah. Hal ini perlu ditindak lanjuti agar orangtua kini mulai sadar akan pentingnya proses perkembangan anak dan proses belajar anak. Jangan hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri tanpa melihat pengaruhnya terhadap diri anak. Anak memiliki proses imitasi (meniru) yang kuat dalam tahap proses balajarnya, contohnya saja, kini banyak lagu-lagu dewasa yang mungkin sering anda dengar dari nyayian mulut mereka. Proses modeling inilah yang perlu orangtua perhatikan saat ini. Melihat tontonan goyang syiur yang menghebohkan dan joged arukan yang tidak karuan, justru akan membuat anak menjadi jiwa yang tidak lepas dari hal-hal negatif yang muncul. Bahkan, pernah pada suatu acara kampanye digelar, tidak sedikit anak yang ikut berjoged di depan panggung, lalu kemanakah orangtua mereka?

Sampai kapan bangsa ini akan maju jika para penerus bangsa kini sudah dijejali oleh hal-hal yang belum pantas untuk mereka tonton, bergoyang erotis, joged arukan dan lain-lainya. Bahkan hal ini dilakukan tidak lain oleh didikan orangtua mereka.

Jadi jangan salahkan perilaku yang muncul pada anak, bila kita tidak menyukainya atau perilaku tersebut salah dimata kita. Anak belajar dari apa yang dia dengar dan apa yang dia lihat. Terutama sangat berpengaruh pada lingkup keluarganya. Mulailah saat ini anda sebagai orangtua untuk tahu dan lebih mengenal cara mendidik anak dengan tepat. Mulailah untuk peduli dalam setiap tindakan anda sebagai orangtua terhadap anak. Dan mulailah untuk membuka mata lebar-lebar mengenai proses perkembangan anak anda.

Selasa, 24 Maret 2009

Anak autis : Pengembangan yang perlu dilakukan


Tak sedikit pun kata keluar dari mulut Sue (28 th). Tatapannya semata terpaku pada tetesan air yang memenuhi sendok plastik kesayangannya. Ditumpahkannya dan kembali tetesan air kran yang mengalir di satu sudut rumahnya di Amerika Serikat ditadah lagi dengan sendok berwarna putih itu.

Cukup sering Sue sendirian melakukan hal itu. Baginya, aktivitas itu membuatnya tenang dan tenteram. Terkadang, Sue melanjutkannya dengan berdiri di depan pintu masuk rumahnya, meski tak jelas apa yang dilihat, dan bersandar setelahnya.

Ini adalah cuplikan film dokumenter yang berkisah tentang anak autis, digelar dalam orasi ilmiah bertajuk "Perspektif Positif dalam Memahami Autis”.

Sue hanyalah salah satu dari sekian ratus anak autis di Amerika Serikat. Adapun jumlah anak autis di Indonesia, bertambah cukup pesat. Ini terlihat dari makin banyaknya pusat terapi yang menangani anak-anak autis, juga pembahasan di media massa, dan seminar-seminar. Sayangnya, belum ada data resmi dari pemerintah tentang jumlah anak autis.

Di Amerika Serikat, sekitar satu dari 166 anak yang lahir tergolong anak autis. Nah, sayangnya pemerintah kita belum punya data jumlah anak autis seluruh Indonesia. Padahal ini diperlukan untuk memandang seberapa urgent hal ini harus mendapat perhatian agar anak autis tidak dimasukkan pada sekolah normal, seperti yang saat ini terjadi.

Faktanya sekolah-sekolah normal ternyata belum mampu menangani anak autis. Cara memasukkan anak autis ke sekolah normal memang memberikan kebanggaan si orangtua bahwa anaknya normal. Sementara di lain sisi tidak ada kesiapan dari pihak sekolah dalam menangani anak autis termasuk teman-temannya yang kerap memperlakukan si anak autis dengan cara berbeda.

Karena itu, perlu penanganan khusus terhadap anak autis. Memang, menangani anak autis tidak mudah. Perlu ada kerja sama lebih baik dari guru dan orangtua yang berorientasi pada pengembangan diri dan menjauhkan anak dari bullying.
Orangtua perlu serius menemukan keunggulan anaknya melalui konsep multiple intelligence bahwa kecerdasan bisa beragam. Ada kecerdasan matematis, kinetik, matematis dan verbal. Setiap anak autis memiliki ciri khusus dalam kuantitas dan kualitas yang berbeda.

Ini adalah keunggulan anak autis yang layak dikembangkan. Dengan demikian, tak heran cukup banyak anak yang menunjukkan kemampuan di bidangnya, seperti musik, seni, matematika, komputer, dan menggambar. Sebagian individu autis memiliki kemampuan luar biasa tanpa melalui proses belajar yang disebut savant, seperti mampu menghafal kamus ensiklopedia secara rinci.

Sayangnya, penanganan anak autis di Indonesia cenderung menekankan pada kekurangan (defisit), bukan pada penggalian dan pengembangan potensi. Padahal, pengembangan potensi dapat digunakan sebagai kompensasi dari defisit yang ada.

Karena itu, cara terbaik memahami mereka adalah dengan berusaha mengenali mereka tanpa prasangka tertentu, apalagi membandingkan mereka dengan individu normal.
Kita juga harus menggunakan perspektif holistik dan positif, yaitu memandang anak autis sebagai individu yang utuh dan memiiki potensi kreatif.

Kenali individu autis lebih dalam, hargai keunikan mereka, serta percaya bahwa mereka juga mampu berpikir dan mengembangkan diri, maka kita akan membantu mengembangkan individualitas dan potensi mereka secara optimal.

Jadi, kenali penderita Autis dengan cara berbeda. Pandanglah bahwa mereka memiliki keunggulan tersendiri.


daftar pustaka

Rabu, 11 Maret 2009

Kasus pola asuh tidak tepat pada anak


BETAPA pentingnya peran orangtua dalam membesarkan dan mengasuh anak, tak diragukan lagi. Berbagai perkembangan anak, mulai fisik, kognisi, emosi, sosial, termasuk harga diri anak, rasa percaya diri dan identitas jender, sangat dipengaruhi orangtua dalam menerapkan pola asuh.

Berikut contoh masalah dari sebuah sumber yang saya dapatkan, yaitu sebuah surat dari seorang anak gadis yang telah mendapatkan pola asuh tidak tepat dari orangtuanya.

--------------------------------------------------------------------------

Yth Ibu Agustine,

Saya gadis (22) yang sedang bergumul dengan permasalahan psikologis amat kompleks. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya laki-laki, usia 20 tahun. Sejak kecil, semua keperluan saya dan adik diurus Ibu. Kehadiran Ayah hanya bersifat fisik saja. Bisa dikatakan, kami tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian seorang ayah.

Meski demikian, hubungan kami dengan Ibu juga tidak terlalu ”dekat”. Adakalanya kami bisa tertawa bersama, tetapi saya tidak pernah merasa nyaman berbagi semua.

Beberapa tahun belakangan Ibu semakin dominan karena Ayah tidak lagi bekerja. Saya merasa Ibu demikian sayang dan memerhatikan anak-anaknya sehingga sering kali sikapnya demikian ”aneh”. Bahasa hiperbolanya, Ibu semakin memantapkan posisinya sebagai ”diktator” yang mengatur kehidupan anak-anaknya.

Hal tersebut membuat saya dan adik makin hari makin tertekan. Akibatnya, kami sering melakukan hal-hal tertentu tanpa sepengetahuan Ibu. Belakangan saya sering merasa emosi saya tidak stabil. Saya bisa menjadi orang yang tegar, kuat, dominan, dan keras di satu sisi, tetapi adakalanya saya merasa demikian lemah, manja, dan mau enak sendiri.

Kalau sudah begini, saya bisa menjadi pribadi kejam dan penuntut, berbohong, melakukan apa saja untuk mendapat yang saya inginkan. Saya juga kadang terdorong berbuat kekerasan (walaupun masih dalam skala kecil). Yang jelas, saya tipe orang introver.

Saya jatuh cinta pertama kali pada usia 10 tahun (cinta yang juga disertai gairah seksual, bukan pula cinta monyet) kepada sahabat perempuan saya, sebut saja X. Di sisi dia, saya merasa hangat. Saya selalu ingin melindungi dan membuat dia tersenyum. Saya mencintai dia seperti lelaki mencintai perempuan.

Pada usia sekarang, saya baru menyadari, mungkin salah satu hal yang membuat saya tertarik kepada X adalah karena saya merasa menemukan ”dunia baru” dalam dirinya, sesuatu yang tidak pernah saya dapat di rumah. Makin dewasa, saya makin menyadari saya tidak tertarik dengan laki-laki dan hanya tertarik kepada perempuan, baik secara fisik maupun emosional.

Saya jatuh cinta kedua kalinya pada usia 20 tahun kepada Y. Dia memperlakukan saya seolah-olah saya pribadi yang butuh ”perlindungan”. Dia melindungi dan mencintai saya seperti laki-laki mencintai perempuan. Saya merasa nyaman, aman, tenang bersama Y. Berbeda dengan yang pertama, kali ini saya mencintai Y seperti perempuan mencintai laki-laki. Kedua perjalanan cinta saya kandas di tengah jalan.

Saya pernah berhubungan seksual dengan Y. Masturbasi juga terkadang saya lakukan. Yang agak meresahkan, makin hari saya makin bergairah dengan fantasi bernada kekerasan. Membayangkan saya atau tokoh idola saya atau Y (bukan X) sebagai ”korban” kekerasan fisik benar-benar memicu gairah saya.

Saya bingung dengan semua yang terjadi. Menurut Ibu, sebenarnya ada apa dengan diri saya? Adakah yang salah? Hal apa yang mesti saya perbuat dan bagaimana saya menghadapi permasalahan ini agar tidak membuat saya makin ”terpuruk”? Saya benar-benar ingin semua yang saya alami bisa menuntun saya pada pemikiran lebih dewasa.
(J di S)

J yang baik, saya prihatin sekali dengan masalah Anda. Analisis saya memang ada yang salah dalam perkembangan kepribadian Anda.

Secara sadar maupun tidak sadar sebenarnya Anda ”marah” atas apa yang telah orangtua lakukan dalam pengasuhan mereka. Anda mengalami banyak konflik dalam hubungan perasaan dengan Ibu yang di satu sisi Anda pahami sangat menyayangi, tetapi Anda tidak terima dengan sikapnya yang otoriter dan tidak punya kompromi itu.

Anda juga sangat kecewa terhadap sikap Ayah yang tidak bisa terlibat secara lebih akrab dan memenuhi kebutuhan masa kecil Anda akan perlindungan dan kasih sayang. Disertai dengan berbagai pengalaman hidup lain, semua itu membuat kepribadian Anda berkembang menjadi seorang yang labil secara emosi dan bimbang pada berbagai prinsip/nilai kehidupan lain, termasuk pilihan orientasi seksual.

Peristiwa ”menyenangkan” dalam perjalanan cinta Anda juga harus berakhir buruk. Padahal, di situ Anda mendapatkan kenyamanan afeksi meski hanya sementara. Kemarahan Anda makin menjadi dan tampil dalam bentuk agresivitas seksual, meskipun masih sebatas imajinasi.

Menurut saya, sebagai seorang yang kemudian paham penyebab masalah sendiri, seyogianya Anda bangkit dan keluar dari berbagai persoalan yang melanda. Sebagai anak muda, gairah seksual memang sedang meningkat, misalnya. Tetapi, Anda juga dapat menyalurkan melalui aktivitas lain yang lebih produktif.

Galilah potensi diri yang belum tertampil. Saya yakin Anda gadis pintar mengingat tulisan Anda. Cobalah terus memperluas pergaulan, baik dengan pria maupun wanita. Upayakan tidak terlalu terpaku pada cara orangtua memperlakukan Anda selama ini, karena Anda pun mampu bersikap lebih dewasa dan mencari panutan dari tokoh lain. Masalah Anda memang berat, bila perlu bisa berkonsultasi kepada psikolog di kota Anda. Salam sukses.

------------------------------------------------------------------


Dari contoh kasus diatas dapat disimpulkan bahwa gaya dan pola asuh orangtua dapat memberikan sumbangan dalam kehidupan anak menjadi tidak stabil baik dalam hal emosi, social maupun kepribadiannya. Bahkan jangan sampai anda sebagai orangtua sampai tidak tahu mengenai permasalahan dan situasi hati anak anda. Komunikasi dengan anak, gaya pola asuh yang baik dan lain-lain dapat mendorong anak menjadi jiwa yang positif dan kehidupanya. Mari kita sebagai orangtua untuk peduli dan penuh perhatian pada anak kita, agar mereka merasakan kasih sayang anda sebagai orangtua.

Daftarpustaka

Selasa, 03 Maret 2009

Hati-hati Pornografi Pada Anak


Tahukah anda, anak-anak SD sekarang ternyata sudah banyak yang mengenal pornografi. Banyak media yang bisa mereka akses untuk menikmati gambar atau adegan syur itu, salah satunya handphone. Jadi bagi orangtua, waspadalah!

Survei yang dilakukan Yayasan Buah Hati selama tahun 2005 ada 1.705 anak kelas 4-6 SD di Jabodetabek yang mengaku sudah kenal pornografi.

Ketua Yayasan Buah Hati Elly Ridwan dalam diskusi Selamatkan Anak Indonesia di Gedung RRI, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (11/5/2006), survei dilakukan terhadap anak-anak di 134 SD.

Mereka disodorkan lembar pertanyaan yang sangat vulgar, namun dengan bahasa yang diperhalus. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebagian besar seputar reproduksi.

Dari survei tersebut diketahui, sebanyak 20 persen mengenal pornografi dari situs internet, 25 persen dari handphone, 2 persen dari film dan TV, 12 persen dari film VCD/DVD, 17 persen dari novel atau cerita, 12 persen dari majalah, koran atau tabloid sebanyak 3 persen, dan lain-lain 9 persen.

Sementara untuk tempat-tempat mereka mengakses materi pornografi sebagian besar, yakni 35 persen di rental VCD/internet, rumah sendiri 25 persen, rumah teman 22 persen, dan lain-lain 18 persen.

Batasi Internet

Ahli telematika dari Masyarakat Telematika, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, mengusulkan agar pemerintah menerbitkan regulasi mengenai internet untuk membatasi akses pengguna internet terhadap situs-situs porno.

Di Indonesia saat ini terdapat 2.500 host server. Setiap host server dapat menyimpan ribuan situs-situs porno.

"Sekarang juga situs porno yang dulunya hanya bisa diakses oleh orang-orang pengguna kartu kredit, tapi sekarang banyak yang gratis atau bebas," katanya usai diskusi.

Ia mengusulkan agar pemerintah membentuk badan yang mengawasi konten internet atau lembaga sensor khusus internet. "Seharusnya ini dimuat dalam PP," katanya.

Selain itu pemerintah harusnya mewajibkan internet provider memasang software khusus yang bisa memfilter situs-situs porno tersebut.

Akan tetapi, karena ini baru sebatas usulan, dia juga menganjurkan beberapa usulan konkret yang bisa dilakukan masyarakat, antara lain internet dipasang di ruang terbuka, membuat kesepakatan dengan anak mengenai situs yang boleh dibuka atau tidak, dan orangtua harus menemani selama anak mengakses internet.

Kecanduan pornografi menjadikan anak bodoh


Ibu-ibu harus tegas melarang anaknya menikmati tayangan televisi yang berbau pornografi. Sebab jika anak-anak kecanduan pornografi bisa menyebabkan daya pikir menurun.

"Otak itu adaptif dan fleksibel. Inilah kecanggihan otak mampu menerima info positif dan negatif yang pada akhirnya menjadi manifestasi pada pembentukan perilaku dan karakteristik seseorang," ujar Kepala Pusat Inteligensia Depkes dr Jofizal Jannis.
Hal itu disampaikan Jofizal dalam jumpa pers tentang Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak Akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Inteligensia di Gedung Depkes, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2009).

Menurut Jofizal, berdasarkan penelitian, hampir 70 persen anak-anak kelas 4-6 SD se-Jabodetabek terpapar pornografi. Data menyebutkan 65 persen dari mereka menyaksikan pornografi lewat program di media, 24 persen lewat komik, 18 persen lewat game, 16 persen lewat situs porno, 14 persen lewat film, 10 persen lewat VCD dan DVD, 8 persen lewat ponsel, dan 4-6 persen lewat majalah dan koran.
Kepala Bidang Peningkatan Kemampuan Intelegensia Depkes Adre Mayza mengatakan, upaya-upaya rehabilitasi yang dilakukan sejauh ini hanya pada rehabilitasi sosial, belum menjamah pada rehabilitasi struktural pada otak.

"Kebijakan yang belum ada selama ini adalah kebijakan terkait gangguan terhadap otak," kata Adre. Oleh karena itu, menurut Adre, pihaknya akan bekerja sama dengan departemen terkait, LSM dan media untuk merumuskan kebijakan gangguan terhadap otak akibat kecanduan pornografi dan narkoba.

Jadi berhati-hatilah dalam mendidik anak anda, mungkin saja anda tidak tahu bahwa anak anda memang sering mengakses ponografi. Melarang, membatasi dan memarahi begitu saja, juga tidak sepenuhnya benar dilakukan untuk mengatasi pornografi pada anak. Tetapi lakukanlah dengan cara yang tepat sehingga anak tidak salah dalam memahami sesuatu, karena anak yang terlibat atau terjerumus masalah ini tidak lain adalah kesalahan gaya mendidik dan cara mendidik anda sebagai orangtua.

Bagaimana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia klik disini

daftarpustaka

Sabtu, 28 Februari 2009

Akibat Salah Mendidik


Mungkin anda sebagai orangtua pernah mengalami keadaan ini. Ketika anak kita sedang berlari-lari tetapi kemudian terdengar suara "Buukkk", anak kita terjatuh di lantai. Tetapi apa yang dilakukan anak kemudian? Ternyata dia tidak menangis, tetapi malah berdiri dan mundur 2 langkah dan menepuk lantai berkali-kali. Mungkin anda terheran-heran melihatnya.

Hal ini bisa akibat dari, ketika anak waktu masih belajar merangkak jatuh dan kemudian nangis, anda datang dan kemudian berkata, “hush, hush, diem, siapa yang nakal? Lantainya yang nakal ya?”

Mungkin hal seperti ini lumrah dilakukan untuk menenangkan anak yang nangis.Tetapi apakah anda tahu bahwa hal ini sungguh salah dalam mendidik anak. Berikut adalah kesalahan-kesalahan yang bisanya dilakukan orangtua:

1. Menyalahkan yang lain

Ini seperti yang tadi sudah saya ilustrasikan di atas, anak jatuh karena kesalahannya sendiri tapi orang tua memilih menyalahkan lantai, batu, kadang-kadang kodok juga (apa hubungannya coba?!) secara tidak sadar orang tua sudah mendidik anak untuk tidak mau bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri, malah sibuk mencari kambing hitam.

2. Membohongi anak

“jangan duduk deket tipi mas, ada kecoaknya lho!” kata pembantu anda waktu anak anda tidak mau mundur dari teve. Tujuannya benar tapi caranya salah, anak harus dikasih tahu apa adanya walaupun mungkin dia belum begitu mengerti. Kalau nanti anak anda tahu di bawah teve tidak ada kecoak, dia akan berani melawan kalau disuruh mundur, dan siapa tahu dia pun akan mulai belajar bohong, kan anak kecil bisanya cuma meniru terutama dari kebohongan anda…

Ada lagi yang lain, “udah jangan nangis, kalau gak nangis besok ayah ajak ke mall”, anak berhenti menangis, besok ayahnya capek, lupa sama janji ke anak. Yang model begini juga mengajarkan anak bohong.

3. Memotong kreatifitas anak

Ilustrasinya begini, misalnya waktu Doni masih kecil ngguntingin taplak meja, kemudian ibu reaksinya bukan, “eh goblok! Itu taplak jangan diguntingin! Dasar dodol! Mahal tahu!” bukan begitu, tapi dengan lembut doni dideketin, kemudian ditanya, “Doni, kenapa taplak mejanya digunting?” Doni bilang, “Buat belajar.” Dari situ ibu mencari kertas kemudian bilang ke doni, “Lain kali jangan taplak mejanya yang digunting ya, itu bukan buat mainan, kalau taplak mejanya rusak kan mejanya jadi jelek. Ini kalau mau latihan nggunting pake kertas saja”

Di sini saya mau mengatakan bahwa, anak kecil masih belum punya konsep benar salah, plus tingkat penasarannya tinggi. Jadi salah kalau dia lagi memuaskan rasa ingin tahunya kemudian dipotong dengan cara keras, karena dia tidak tahu itu salah. Biarkan dia berimajinasi, cukup dikawal agar tidak membahayakan.

4. Overprotected


Kadang anak suka melakukan hal-hal yang berbahaya, manjat, lompat, dan lain-lain, yang bikin orang tua kadang suka rada takut. Yang jadi masalah kadang karena tidak ingin anaknya kenapa-kenapa akhirnya si anak dilarang-larang, mau ini jangan, mau itu jangan. Alhasil, tumbuhlah anak anda jadi anak penakut dan tidak punya semangat juang. Biarkan saja anak mau ngapain selama masih dalam batas kewajaran, yang penting dijaga agar tidak kebablasan dan tidak membahayakan dirinya sendiri.

5. Do as I say not as I do


Yang terakhir, anak cuma sedikit mendengar tetapi banyak melihat. Ketika anak bersuara dengan keras , ibunya membentak, “Kamu kalau ngomong jangan kayak gitu!” dengan nada yang tidak kalah keras. Kalau anak anda nakal, sebelum banyak menasihati cobalah dulu berkaca, apakah yang mau anda sampaikan sudah sesuai dengan apa yang selama ini anda lakukan.

Problem Komunikasi Dalam Keluarga Terutama Anak


(Anak) : Mama...mama...adek nggak mau sekolah lagi...pokoknya nggak mau...sekolah itu nggak enak soalnya ada si dono yang badannya besar dan suka gangguin adek...adek takut, Ma...adek nggak mau ketemu dono....(sambil menangis)

(Mama): (mamanya sambil matanya lekat ke sinetron yang sedang seru-serunya) Mmmm...Oooo...Aahh nggak apa-apa, kan...biasa itu...masa’ begitu saja takut...pokoknya besok sekolah seperti biasa...ya! anggap saja tidak ada apa-apa....ya sudah, sana..! lagi seru niiih..wah, jadi kelewat deh ceritanya...! kamu sih...!

Situasi di atas sepertinya tidak asing lagi di jaman ini, di mana setiap orang, termasuk orang tua, seolah membangun dunia sendiri yang terpisah dari orang lain, bahkan anggota keluarganya sendiri. Komunikasi keluarga menjadi “barang mahal dan barang langka” karena masing-masing sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaannya masing-masing. Akhirnya, komunikasi yang tercipta di dalam keluarga, adalah komunikasi yang sifatnya informatif dan superfisial (hanya sebatas permukaan). Misalnya, pemberitahuan agenda kerja ayah hari ini, rapat di kantor, janji bertemu orang, harus presentasi, atau mungkin membicarakan mengenai teman ayah punya pekerjaan baru, si Pak Tiar pergi ke luar negeri, tingkat bunga bank, kurs dollar, situasi politik, kerusuhan yang terjadi di luar daerah, dan lain sebagainya. Sementara ibu membicarakan tentang teman kerja di kantor, rencana bisnis ibu, rencana masak memasak, pertemuan arisan, acara televisi baru, atau membicarakan tentang anak teman ibu yang punya masalah. Anak-anak, punya dunianya sendiri yang sarat dengan keanekaragaman pengalaman dan cerita-cerita seru yang beredar di kalangan teman-teman mereka.

Dalam kepadatan arus informasi yang serba superfisial dan sempitnya “waktu bersama”, membuat hubungan antara orang tua – anak semakin berjarak dan semu. Artinya, hal-hal yang diutarakan dan dikomunikasikan adalah topik umum selayaknya ngobrol dengan orang-orang lainnya. Akibatnya, masing-masing pihak makin sulit mencapai tingkat pemahaman yang dalam dan benar terhadap apa yang dialami, dirasakan, dipikirkan, dibutuhkan dan dirindukan satu sama lain. Dalam pola hubungan komunikasi seperti ini, tidak heran jika ada orang tua yang kaget melihat anaknya tiba-tiba menunjukkan sikap aneh, seperti tidak mau makan, sulit tidur (insomnia), murung atau prestasinya meluncur drastis. Orang tua merasa selama ini anaknya seperti “tidak ada apa-apa” dan biasa saja. Lebih parah lagi, mereka menyalahkan anak, menyalahkan pihak lain, entah pihak sekolah, guru, atau malah saling menyalahkan antara ayah dengan ibu. Seringkali orang tua lupa, bahwa setiap masalah adalah hasil dari sebuah interaksi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Setiap orang, punya kontribusi dalam mendorong munculnya masalah, termasuk masalah pada anak-anak mereka.

Seni Mendengarkan

Komunikasi, sesungguhnya tidak hanya terbatas dalam bentuk kata-kata. Komunikasi, adalah ekspresi dari sebuah kesatuan yang sangat kompleks : bahasa tubuh, senyuman, peluk kasih, ciuman sayang, dan kata-kata. Seni mendengarkan, membutuhkan totalitas perhatian dan keinginan mendengarkan, hingga sang pendengar dapat memahami sepenuhnya kompleksitas emosi dan pikiran orang yang sedang berbicara. Bahkan, komunikasi yang sejati, sang pendengar mampu memahami apa yang terjadi / yang dirasakan oleh lawan bicara meski dengan kata-kata yang sangat minimal.

Lalu bagaimana cara mendengarkan yang baik, dan apa manfaat dari mendengarkan, serta bagaimana evaluasi kita sebagai orangtua? Semuanya akan dikupas dalam PAKET produk bagaiamana cara mendidik anak agar sukses dan bahagia. Klik disini